Rabu, 13 Desember 2017

Proud being a mother - Pengalaman Ngidam -

Hello World
After a long time no posting something, saya mau sharing sesuatu yang kali ini nggak berhubungan secara langsung dengan makan - memakan makanan enak. Ini sharing pengalaman menghitung hari menjelang kelahiran anak pertama saya.
Menikah diakhir tahun 2015 tidak membuat saya langsung menjadi seorang istri dan ibu. Dalam waktu tenggang tersebut, saya mengisinya dengan kegiatan makan enak, jalan - jalan, our time dengan pasangan halal saya. Karena belum dikaruniai momongan selama masa tenggang tersebut, kami seperti diberi waktu pacaran setelah menikah yang pastinya sangat menyenangkan sekaligus penuh kegelisahan. Namun usaha dan doa terus dilakukan tanpa pernah ada kata menyerah, meskipun sempat merasa kecewa dengan hasil test pack yang selalu garis satu, dan akhirnya membuat saya enggan untuk pakai test pack lagi. Namun justru karena tidak cek cek kembali, alhamdulillah, pihak puskesmas yang memperlihatkan garis dua pada test pack yang awalnya sempat saya musuhi.
Beberapa minggu sebelum saya lihat test pack itu, saya yang sebelumnya melakukan pengabaian terhadap hasrat "ngidam" membuat saya mengindahkan semua makanan yang saya inginkan.
Entah kenapa saat itu saya kepengen banget makan es sirsak. Minuman yang menurut saya langka banget ya, karena paling banyak dijual itu jus sirsak. Es sirsak ini sama aja kayak es alpukat keruk, tapi ini diganti buah sirsak.
Saya sudah minta ke suami untuk menyediakan es tersebut, meski hanya versi jus-nya saja. Namun suami mengabaikan kemauan saya itu. Alhasil saya pun uring- uringan dan entah kenapa hasrat tersebut makin bergejolak ditenggorokan.
Sampai suatu hari, ada acara yang dilakukan di salah satu restoran di bandara, membuka kesempatan emas saya untuk melepaskan hasrat terhadap jus sirsak. Meski nggak kental dan kurang dingin menurut saya, tapi jus di restoran tersebut cukup mengobati rasa penasaran saya terhadap buah berasa asam, dengan daging buahnya yang berwarna putih tersebut.
Empat minggu sebelum saya "ngidam" sirsak saya sempat makan mie goreng super pedas asal negeri ginseng, ramen goreng kekinian yang sempat diragukan sertifikasi halal-nya. Ramen goreng dengan bungkus hitam yang membuat pecinta pedas semakin cinta, dan yang tidak kuat pedas merasa sengsara.
Saya dan suami habis berbelanja di supermarket dan hanya membeli 3 bungkus mie korea itu. Suami saya kebetulan lebih penasaran dengan mie fenomenal tersebut yang digadang2 lebih pedas dari sambal korek.
Karena porsinya besar, kami pun makan semangkuk berdua, padahal kalau mie instant merk lokal, kami makan dimangkuk masing masing. Semangkuk berdua biar kerasa ala koreanya. Sejak suapan pertama suami saya melambaikan garpunya.
Namun dengan santainya saya melahap semangkuk mie goreng korea itu tanpa rasa bersalah alias tanpa rasa pedas yang menggigit lidah. Beberapa menit kemudian barulah perut saya rasanya bergejolak masa muda alias kok nyeri nyeri panas gitu ya. Dan benar saja, 1 liter susu UHT yang biasanya habis dalam 2 hari, langsung ludes dalam hitungan menit. Lidah mati rasa, tapi perut tidak bisa bohong.
Belum lagi saya makan manisan mangga pedas, dan manisan salak pedas yang dibeli suami di salah satu super market.
Ternyata itu yang namanya "ngidam".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar